PENDIDIKAN ANAK TUNA NETRA

MODIFIKASI  SEBAGAI STRATEGI

PEMBELAJARAN  PADA PESERTA DIDIK   TUNANETRA*)

 

Oleh: Drs. Subagya, M.Si

 

  1. A.     LATAR  BELAKANG

Menurut Kirley (1975) berdasarkan tes inteligensi dengan menggunakan Hayes-Binet bahwa IQ anak tunanetra berkisar 45-160 dengan distribusi:

12,5% memiliki IQ kurang 80.

37,5% memiliki IQ di atas 120.

50% memiliki IQ antara 80-120.

Anak tunanetra memiliki skor subtes komprehensip lebih rendah jika dibanding rata-rata skor subtes lainnya.

Para ahli psikologi telah mengadakan penelitian inteligensi anak tunanetra dan menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara inteligensi anak tunanetra dengan anak awas. Levingston berpendapat bahwa rata-rata inteligensi anak tunanetra adalah 98,6, sedangkan Pintner, dkk menyimpulkan bahwa tingkat inteligensi anak tunanetra sama dengan inteligensi rata-rata anak awas. Pendapat tersebut didukung oleh Baraga (1986), Lowenfeld (1979), Parson & Saborine  bahwa gangguan penglihatan dapat berpengaruh negatif pada perkembambangan intelektual dan performansi, tetapi menbandingkan anak tunanetra dengan anak awas adalah tidak adil, sebab tugas-tugas yang diberikan mengganggu anak tunanetra. Kirtley berpendapat bahwa perbedaan intelektual kedua kelompok tersebut banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, misalnya: lingkungan rumah yang tak menyenangkan, gangguan neurologis dan fisik, dan tidak ada korelasi yang signifikan antara inteligensi dan usia terjadinya ketunanetraan.

Levingston  sependapat dengan Kirtley, bahwa perkembangan inteligensi tidak langsung dipengaruhi oleh hilangnya fungsi penglihatan, dan IQ sendiri tidak cukup untuk mengukur kemampuan belajar. Menurut Kline (1997) kemampuan anak tunanetra mungkin lebih bagus dari pada hasil yang ditunjukkan. Kwan (1995) menyatakan bahwa interaksi ibu dan anak tunenetra akan berpengaruh positif jika ibu memberikan respon yang positif, misalnya: mendorong mobilitas anak, membantu jika diminta, mengajak bicara, dll.

Memperhatikan hal tersebut di atas, tidak ada alasan untuk melakukan diskrimasi pendidikan terhadap anak tunanetra untuk memperoleh pendidikan pada semua jenjang. Setiap dosen/ guru memiliki strategi dan gaya mengajar yang berbeda-beda, dengan teori dan pengembangan dari pengalamannya dosen/ guru dapat memiliki kompetensi dalam

*) disampaikan dalam seminar teknologi bantu tunanetra, UIN Yogyakarta, 2 Mei 2007

 menghadapi setiap materi dan berbagi perbedaan individu peserta didik. Pembelajaran untuk anak tunanetra tidak berbeda dengan pembelajaran untuk anak awas pada umumnya, yang membedakan hanya cara anak menerima persepsi sehingga membutuhkan  strategi pembelajaran yang sesuai.

Dosen/ guru yang berhasil biasanya  ketika mengajar tidak meratapi nasib peserta didiknya, juga tidak merasa jijik menghadapi peserta anak didik yang tunanetra. Ketunanetraan yang ada pada anak bukan kewajiban dosen/ guru untuk merubah, tetapi mengidentifikasi kemampuannya untuk dapat dikembangkan seoptimal mungkin.

 

  1. B.     PERSEPSI ANAK TUNANETRA

Menurut Naatanem (Pinel, 1993) sebenarnya proses persepsi sendiri dimulai dari perhatian yaitu proses pengenalan selektif yang menuntut kemampuan memfokuskan diri pada sekumpulan stimulus serta menerima  melalui organ sensoris pada indra yang relevan dengan tujuan saat itu. Stimulus yang datang tidak semuanya menimbulkan reaksi pada individu karena adanya sistem seleksi terhadap perhatian.

Gibson (dalam Amin, 1985) memerinci unsur persepsi terdiri dari lima aspek yaitu deteksi, diskriminasi, pengenalan, identifikasi, dan pertimbangan. Kelima aspek tersebut dapat dipersempit menjadi tiga aspek yang meliputi seleksi, interpretasi, dan reaksi. Seleksi  amat berkaitan dengan  penerimaan stimulus melalui indra. Interpretasi merupakan proses mengorganisasikan informasi sehingga memiliki arti bagi seseorang. Interpretasi tersebut tergantung dari berbagai faktor, misalnya pengalaman masa lampau, sistem nilai yang dimiliki seseorang, motivasi, kepribadian, kecerdasan dan lain sebagianya.

Indra penerima stimulus  tidak baik  atau kurang sempurna akan ditafsirkan oleh otak dalam konteks yang berbeda atau persepsi yang salah. Indra penerima stimulus dalam kondisi sempurna  tetapi  kecerdasan sebagai pusat penafsiran stimulus tidak baik,  maka stimulus akan diinterpretasikan  berbeda dengan konteksnya  atau salah persepsi. Kesalahan persepsi akan dimanifestasikan dalam perilaku individu.

Rusaknya indra penglihatan pada anak tunanetra (khususnya anak tunanetra kategori buta) mengakibatkan persepsi diperoleh melalui indra  bukan visual, sedangkan pada anak tunanetra kategori kurang lihat yang ringan dan sedang  masih memperoleh persepsi visual.  Persepsi tersebut memberikan arti dalam memperoleh keanekaragaman pengalaman, tetapi pada anak tunanetra kategori kurang lihat berat persepsi visual hanya berfungsi untuk kepentingan orientasi dan mobilitas saja. Melalui pelayanan dan media khusus, anak tunanetra kategori  kurang lihat sedang dan ringan persepsi visual dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.

Hilangnya fungsi visual menuntut adanya latihan untuk mengembangkan indra-indra lain. Seseorang mengalami tunanetra pada usia remaja atau dewasa akan mengalami pengalihan dari indra visual ke indra bukan visual. Di bawah ini secara berturut-turut akan disajikan peran  indra-indra tersebut.

1.  Indra pendengaran

Indra pendengaran merupakan indra nomor dua setelah indra penglihatan (Baraga, 1986). Pendengaran memberi informasi tentang tempo dan waktu. Pendengaran merupakan indra jarak jauh yang mampu menempuh ruang. Tinggi fungsional bunyi yang pertama adalah suara primitif lalu sebagai tanda dan pemberitahu kemudian sebagai persepsi lambang suara (Lowenfeld, 1979).

Semula orang mengira kepekaan pendengaran dianggapnya sebagai suatu yang otomatis sebagai kompensasi atas hilangnya fungsi visual.  Anggapan tersebut tidaklah benar, sebab kepekaan yang dimiliki anak tunanetra ternyata sebagai hasil dari  latihan yang terus menerus dan pembiasaan  secara cermat dan kontinyu.

Anak tunanetra dengan pendengarannya mampu mengetahui suasana yang silih berganti. Anak tunanetra mengetahui dari berbagai jenis dan warna suara (timbre) yang menggambarkan atau memberi petunjuk terhadap suatu keadaan atau peristiwa dan objek.

Keistimewaan indra tersebut adalah keajegan kerja. Dalam suasana tidur pun pendengaran masih tetap berfungsi. Suara yang khas tiap pagi ternyata memberi petunjuk bagi tunanetra untuk segera bangun pagi.

Alat permainan dan aktivitas yang mengkombinasikan tekstur atau bentuk dengan bunyi dapat membuka peluang bagi tunanetra terhadap terbentuknya asosiasi antara benda-benda. Bunyi-bunyi yang telah dikenal merupakan petunjuk yang berarti bagi tunanetra, maka mereka akan terbimbing dalam mengeksplorasi dan mengembangkan kebebasan bermobilitas.

  1. 2.       Indra Perabaan

Kepekaan indra perabaan pada anak tunanetra tidak berlangsung secara otomatis, tetapi melalui latihan yang berlangsung terus-menerus sebagai kompensasi hilangnya fungsi visual.  Ketajaman indra perabaan pada tunanetra dapat diperhalus dan dipertajam sehingga dapat digunakan secara intensif (Verbeek, 1979). Hal tersebut didukung oleh Kuznetsova (1993) dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa sensitivitas indra perabaan anak tunanetra sejak lahir akan bertahan sampai  dengan usia 30 tahun.

Kulit memberikan informasi tentang kualitas lingkungan dan kulit memiliki reseptor yang terdapat pada titik tekanan, nyeri, dan panas-dingin (Pinel, 1993). Sensitivitas kulit ditentukan oleh adanya kemampuan untuk membedakan dua titik yang disebut diskriminasi taktual.

Guyton (1981) menyatakan bahwa perabaan yang paling peka adalah ujung lidah (1 mm), ujung jari (2 mm), dan hidung (3 mm). Pinel (1993)  menyatakan bahwa bagian tubuh yang mampu mendiskriminasikan taktual yang terhalus adalah tangan, bibir, dan  lidah. Kepekaan diskriminasi taktual sesuai dengan kepadatan reseptornya dan luasnya korteks serebri sensorik, maka tunanetra mampu membedakan berbagai variasi bentuk titik timbul dalam huruf Braille.

Anak tunanetra usia sekolah atau prasekolah menggunakan tubuhnya untuk memahami masalah ruang. Kegiatan tersebut hanya dapat dilakukan dengan mudah oleh mata. Mata dapat memperoleh persepsi yang menyeluruh terhadap objek yang diamati. Anak tunanetra tidak akan mengerti isi ruangan tanpa sentuhan, bunyi-bunyian atau ciri yang khas. Anak tunanetra harus meraba secara bagian demi bagian,  kemudian menggabungkan persepsi yang detail itu menjadi suatu gestal (Baraga, 1986).

Anak buta sejak lahir mulai mengetahui bahwa ada ruangan di luar dirinya ketika mereka diajar menjangkau dengan tangannya untuk mendapatkan barang atau benda, kemudian barulah mereka berani mengangkat tubuhnya. Ketika mengulurkan tangannya ke segala arah atau mengangkat kakinya, maka mereka mendapatkan informasi tentang kesanggupan untuk membentuk konsep dan posisi tubuh. Kesatuan, kekakuan, kestabilan, berat, bentuk, dan tekstur dapat diketahui dengan indra perabaan. Persepsi warna, benda-benda yang berbahaya atau sulit dijangkau merupakan kelemahan dari indra tersebut.

  1. 3.       Indra – indra lain

Indra pencecap dan pencium secara fisiologis dekat sekali letaknya, maka kedua indra tersebut akan bekerja secara kooperatif. Warna-warni dari suatu makanan tidak akan berarti bagi tunanetra tanpa adanya bau-bau yang khas. Rasa yang telah dikenal akan dapat membedakan terhadap berbagai jenis benda atau mengasosiasikan antara rasa dengan bentuk benda.

Indra pembau mampu menganalisis dan menduga terhadap jenis benda, asal benda serta rasa dari benda tersebut. Bau yang khas akan merupakan petunjuk terhadap suatu objek yang dituju. Bau menginformasikan posisi badan dan sebagai petunjuk berjalan bebas.

Orientasi tersebut di atas akan memperkaya pengetahuan anak. Ciri khas bau mempunyai arti dalam setiap kegiatan orientasi dan mobilitas. Bau keringat seseorang, pabrik roti , kosmetik, dll memberi petunjuk pada tunanetra akan posisi badan yang diinginkan.

Indra kinestesi menyadarkan anak tunanetra akan posisi dan gerak tubuh. Indra kinestesi sebagai sensitivitas terhadap gerak otot atau sendi, kalau seorang mengangkat tangan setinggi bahu, maka indra kinestesi  akan memberitahu posisi tangan kepada orang itu.. Tunanetra mampu mengenal dan menghayati naik turunnya jalan bahkan sampai pada perubahan vertikal. Indra keseimbangan mampu memberikan informasi tentang posisi dari tubuhnya dan juga gerakan lurus serta memutar dari bagian–bagian tubuh tersebut.

 

C.  HAMBATAN  SEBAGAI AKIBAT KETUNANETRAAN

Telah diketahui bahwa informasi  80% diperoleh  melalui indra visual.  Hilangnya fungsi visual  mereka  harus dapat mengkompensasikan ke dalam indra lain non visual.  Penguatan kepekaan indra non visual tidak akan mampu mengganti fungsi holistik indra visual.  Setiap indra  memiliki fungsi dan karateristik berbeda-beda dan saling melengkapi.

Saat  terjadinya  ketunanetraan  berpengaruh terhadap struktur  kepribadian  anak, semakin dewasa anak menerima  ketunanetraan akan  semakin sulit  bagi  mereka  untuk segera menerima  Hal ini  disebabkan  karena   hadirnya dunia  yang lain  yang tidak dibayangkan sebelumnya.  Diantara  mereka  merasa tidak punya arti  dan bahkan berusaha bunuh diri.  ketunanetraan kongenital  akan  menerima  keadaan  sejak mereka sadar sebagai makluk hidup,  karena  mereka  belum membadingkan  dunia lain kecuali dunia buta.

Penyebab  ketunanetraan dapat berpengaruh terhadap kepribadiannya. Mereka akan  merenung  terhadap  keadaan kebutaan itu  sebagai kesalahan dirinya atau kesalahan orang lain atau bahkan  hukuman dari Tuhan.  Dimana anak menjatuhkan kesalahan pada  orang lain tentu  akan berbeda bila  kesalahan itu jatuh pada diri sendiri.

Penolakan ketunanetraan oleh penyandang  sebenarnya  manusiawi, siapapun   dan `kapan pun tidak ingin  menjadi  buta.  Yang tidak menjadikan  realistis bila  depresi itu berlangsung terus menerus dan cenderung  berkembang ke arah yang lebih negatif..

Pada  tahap awal ketunanetraan,  mereka memiliki karakter yang  mudah tersinggung,  curiga pada orang lain dan bahkan rendah diri.  Keadaan ini  akan berkurang  bila  mereka secara lambat laun mampu menerima  secara realistis.  Karakteristik yang  lain  mereka  verbalisme  dan blindisme (adanya  gerakan pada  anggota  badan kontinyu sebagai akibat kurangnya stimulus).  

Sebagai  akibat   hilangnya fungsi  penglihatan   mereka  memperoleh  informasi  dimulai dari bagian-bagian ke global baru kemudian informasi itu dirangkum menjadi kesatuan yang memiliki arti.  Berbeda dengan  orang awas  kebanyakan informasi diperoleh mulai dari  global dan spontan mencakup keseluruhan baru kemudian  ke bagian-bagian. Menurut Lowenfeld (1978) ketunanetraan  akan berakibat   adanya   keterbatasan:

  1. 1.       Dalam  memperoleh keanekaragaman  pengalaman;
  2. 2.       Proses  sosialiasi;
  3. 3.       Mobilitas.

Ketiga   keterbatasan  itu menjadi  keterbatasan umum  yang dimiliki oleh orang-orang buta, hanya  tingkat dan cara  mengatasinya yang berbeda-beda. Taraf  penerimaan kebutaan serta karakteristik  kepribadian orang buta  berpengaruh  dalam tingkat  keterbatasan di atas.

 

D.  PRINSIP PEMBELAJARAN  UNTUK ANAK TUNANETRA

Terdapat  empat prinsip dalam pembelajaran bagi anak tunanetra bila dibandingkan anak awas pada umumnya (Subagya, 2004).

Pertama:  melakukan duplikasi, artinya mengambil seluruh materi dan strategi pembelajaran pada anak awas ke dalam pembelajaran pada anak tunanetra tanpa melakukan perubahan, penambahan,  dan pengurangan apa pun.

Kedua: melakukan modifikasi terhadap materi, media  dan strategi pembelajaran yaitu sebagian atau keseluruhan materi, media, prosedur dan strategi pembelajaran yang dipergunakan pada pembelajaran anak awas dimodifikasi sedemikian rupa sehingga baik materi, media, dan strategi pembelajarannya sesuai dengan karakteristik anak.

Ketiga: melakukan substitusi, yaitu mengganti materi, media, dan strategi pembelajaran yang berlaku pada  pembelajaran anak awas, bahkan mengganti  mata pelajaran  tertentu, misalnya mata pelajaran menggambar diganti dengan apresiasi seni suara atau sastra. Memberikan tambahan pembelajaran/ kegiaatan ekstra kurikuler yang berkaitan dengan aktivitas kompensatif yang tidak ada pada kurikulum reguler. Misalnya kursus  orientasi mobilitas, Activity of dailly living (ADL), computer bicara, dll.

Keempat:  melakukan omisi, yaitu penghilangan  materi tertentu yang berlaku pada pembelajaran anak awas. Hal tersebut dilakukan apabila ketiga prinsip di atas sudah tidak dapat dilakukan, misalnya   meniadakan materi pembiasan, proyeksi warna,   pada mata pelajaran/ mata kuliah tertentu, dan lain sebagainya. Prinsip  terakhir tersebut jarang dilakukan oleh sebagian besar dosen/ guru dengan pertimbangan  sesulit apa pun semua materi tetap diberikan tetapi menurunkan  target daya serap pembelajaran. Pada kasus pembelajaran materi pembiasan, dosen/ guru tetap menyampaikannya  secara informatif, karena dapat bermanfaat untuk komunikasi dengan anak awas lain, meskipun  verbalisme anak tunatera dapat memanfaatkan kata  visual dalam berkomunikasi dengan peserta didik yang tidak tunanetra.

E.  MODIFIKASI PEMBELAJARAN UNTUK PESERTA DIDIK TUNANETRA

  1. 1.                                                                               Variabel pembelajaran

Menurut Reigeluth (Subagya, 2007) variabel penting dalam pembelajaran, yaitu: a) kondisi pembelajaran, b) metode pembelajaran, dan c) hasil pembelajaran.

  1. a.    Kondisi pembelajaran berkaitan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik, mata pelajaran/ kuliah, kendala, dan karakteristik peserta didik.
Tujuan pembelajaran dapat diklasifikasi menjadi 2 jenis, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan Umum: pernyataan umum tentang hasil pembelajaran yang diinginkan. Tujuan ini diacukan kepada keseluruhan isi mata pelajaran/ kuliah. Oleh karena itu, tujuan umum akan banyak mempengaruhi strategi pengorganisasian makro. Tujuan Khusus: pernyataan khusus tentang hasil pembelajaran yang diinginkan. Tujuan ini diacukan pada konstruk tertentu (apakah fakta, konsep, prosedur, atau prinsip) dari mata pelajaran/ kuliah. Oleh karena itu, tujuan khusus akan banyak mempengaruhi strategi pengorganisasian mikro.
Karakteristik mata pelajaran/ kuliah pada hakikatnya mengacu kepada struktur mata pelajaran/ kuliah dan tipe isi. Struktur mata pelajaran/ kuliah diperlukan untuk kepentingan pengembangan strategi pengorganisasian pembelajaran yang optimal, yaitu yang berkaitan dengan pemilihan, penataan urutan, pembuatan rangkuman, dan sintesis bagian-bagian mata pelajaran/ kuliah yang terkait. Tipe isi berkaitan dengan jenis isi yang meliputi: fakta, konsep, prinsip, dan prosedur.

Kendala didefinisikan sebagai keterbatasan sumber-sumber belajar, seperti: waktu, alat/ media, personalia, dan ruang.

Karakteristik peserta didik didefinisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas individu peserta didik. Aspek-aspek ini bisa berupa bakat, motivasi, perilaku, ke-biasaan, kemampuan awal, status sosial ekonomi, kondisi fisik, kondisi mental, dll

  1. b.   Metode pembelajaran terdiri dari 3 jenis, yaitu: a) strategi pengorganisasian, b) strategi penyampaian, dan c) strategi pengelolaan.

Strategi pengorganisasian pembelajaran adalah metode untuk mengorganisasi isi mata pelajaran/ kuliah yang telah dipilih untuk pembelajaran. Mengorganisasi mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dan lainnya yang setingkat dengan itu.

Strategi penyampaian merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan program pembelajaran. sekurang-kurangnya ada 2 fungsi dari strategi ini, yaitu: (1) menyampaikan isi pembelajaran kepada peserta didik, dan (2) menyediakan informasi/ bahan-bahan yang diperlukan peserta didik untuk menampilkan unjuk-kerja (seperti latihan dan tes). Strategi penyampaian mencakup lingkungan fisik, guru, bahan-bahan pembelajaran, dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran. Atau, dengan kata lain, peraga merupakan satu komponen penting dari strategi penyampaian pembelajaran. Itulah sebabnya, peraga pembelajaran merupakan bidang kajian utama strategi ini. Secara lengkap ada 3 komponen yang perlu diperhatikan dalam memdeskripsikan strategi penyampaian: (1) peraga pembelajaran, (2) interaksi peserta didik dengan peraga, dan (3) bentuk/ struktur belajar mengajar.

Strategi Pengelolaan merupakan komponen variabel metode yang berurusan dengan bagaimana menata interaksi antara peserta didik dengan variabel-variabel metode pembelajaran lainnya.

c. Hasil pembelajaran  adalah semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan suatu metode di bawah kondisi yang berbeda. Efek ini bisa berupa efek yang sengaja dirancang, karena itu ia merupakan efek yang diinginkan, dan bisa juga berupa efek nyata sebagai hasil penggunaan metode pembelajaran tertentu. Bila acuan pembelajaran adalah pada efek atau hasil pembelajaran yang diinginkan, maka hasil ini harus ditetapkan lebih dulu sebelum menetapkan metode pembelajaran.

Pembelaran dapat diketahui hasilnya harus dilakukan pengukuran/ penilaian hasil belajar peserta didik. Selain itu perlu diukur terhadap efektivitas, efisiensi dan daya tarik pembelajaran

2.  Modifikasi  pembelajaran

Melakukakan modifikasi pembelajaran mengacu pada variable pembelajaran, namun tidak semua variable pembelajaran itu harus dimodifikasi. Modifikasi pembelajaran berfokus pada variabel yang menjadi permasalahan sesuai dengan karakteritik peserta didik tunanetra.

  1. a.       Kondisi pembelajaran berkaitan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik mata pelajaran/ kuliah, kendala, dan karakteristik peserta didik.

1)    Modifikasi tujuan pembelajaran dan karakteristik mata pelajaran di kelas awal (SD kelas  I-III) diperlukan, namun untuk level peserta didik (Perguruan Tinggi) tidak perlu dimodifikasi.

2)    Kendala peserta didik perlu dimodifikasi khususnya yang berkaitan dengan waktu, sarana/ alat, ruang sebagai berikut:

a)       Modifikasi  waktu pembelajaran

  • Lebih bijaksana bila dalam pemberian setiap tugas ada kaitannya dengan jenis/ tingkat kesulitan yang dialami anak, waktu diberikan kelonggaran secara proporsional bila dibanding dengan anak rata-rata lain. Mereka diberikan kesempatan untuk berprestasi seperti yang lain sekalipun dalam waktu yang berbeda. Misalnya anak tunanetra dalam mengerjakan soal-soal ujian diberikan  tambahan waktu sedikitnya 20% dengan waktu yang digunakan oleh anak awas.
  • Asumsi  jumlah penambahan waktu itu tidak memiliki dasar yang kuat, karena tiap mata kuliah tidak membutuhkan penambahan waktu yang sama. Mata kuliah statistik yang disajikan dalam bentuk gambar/ denah/ grafik timbul memerlukan waktu yang lebih lama, ketika anak mengidentifikasi table, formula, grafik, sebaliknya mata kuliah filsafat justru relatif lebih cepat. 
  • Kecepatan mengerjakan soal berbalik dengan orang awas (soal non eksakta), jika anak buta lebih cepat soal disajikan dalam bentuk  verbal, maka anak awas lebih cepat dan lebih yakin jika soal disajikan dalam bentuk tertulis. Hal ini disebabkan karena  kecepatan  membaca Braille dengan  huruf cetak  memiliki rentang waktu yang relatif lama.

b)   Modifikasi  sarana/ media

  • Ø Media baca tulis untuk anak tunanetra total (buta) dimodifikasi  dalam huruf Braille, dan anak low vision dapat dimodifikasi dengan tulisan/ huruf diperbesar/ menggunakan media optik sesuai dengan tingkat penglihatannya.
  • Ø Telah banyak diciptakan alat-alat dari hasil modifikasi yang khusus dipergunakan untuk anak dengan kebutuhan khusus. Modifikasi tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh mereka yang menggunakan.  Misal:
  • Komputer untuk tunanetra yang dilengkapi dengan voice synthesizer (komputer bicara), jam bicara, Hand Phone bicara,  screen reader,  kompas bicara, kalkulator bicara.
  • Soft ware yang diperlukan: translator Braille: CX, duxbury, MBC, WinBraille, Voice syntheziser: Jaws, dll
  • Embosser: Braillo 400, Braillo 200, Comet, Versapoint, Everest, Index, Mounbothen, Marathon, MBOS, Braille Blazer, dll.
  • Laser can  (tongkat yang dilengakpi detector) untuk membantu tunanetra berjalan dll.
  • Buku bicara (talking book) melalui kaset atau CD (buku digital).
  • Papan catur timbul, sepak bola bunyi, tenis meja (bola bunyi), bridge timbul, static bicyle, Sepatu roda, merupakan alat olah raga tunanetra.
  • Block kis tuntuk menghitung, papan paku untuk sistem koordinat, meteran timbul, meteran bunyi, kalkulator bicara, dll dapat dimanfaatkan pada mata kuliah matematika.
  • Braille Kit
  • Mesin ketik Braille
  • Tongkat putih, Blindford
  • Power Rider
    • odll

 

     c)  Modifikasi pengelolaan kelas

  • § Pengorganisasian kelas membutuhkan strategi yang kadang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Pengaturan tempat duduk terhadap anak-anak yang mengalami kelainan harus mendapatkan prioritas khusus, sehingga mereka seperti halnya teman yang lain. Tanpa modifikasi pengelolaan kelas mungkin mereka akan semakin tertinggal dengan teman yang lain.
  • Penempatan tempat duduk anak tunanetra harus diperhatikan  ketajaman pendengaran antara telinga kanan-kiri. Hindarkan sumber suara dosen tidak dapat diterima anak dengan baik. Kerapian tempat duduk tidak berarti apapun jika anak tunanetra tidak dapat mendengar informasi dosen/ guru.

 

           
  O  O      O  O      O  O   
           
  O  O      O  O     O  O  
           
  X  O      O  X      X  O   
           

 

Keterangan:

X = tempat duduk anak dengan kebutuhan khusus

V

0 = adalah tempat duduk anak rata-rata/ normal/ awas

V  = meja/ kursi  dosen

 

  • Pembuatan kelompok  belajar/ kelompok apapun sebaiknya anak tunanetra  tidak dijadikan satu kelompok, mereka harus menyebar keseluruh kelompok yang ada. Sejauh anak dengan peserta didik tunanetra masih dapat mengerjakan tugas-tugas seperti anak yang lain sekalipun minimal, mereka mendapatkan tugas seperti anak yang lain.
  • Kelas-kelas yang terdapat peserta didik tunanetra sebaliknya jangan diciptakan situasi belajar yang kompetitif, namun hendaknya anak yang unggul dapat dimanfaatkan untuk memberikan/ membantu kesulitan yang dihadapi memberikan/ membantu kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik tunanetra secara kooperatif. Bila kelas dikondisikan kompetitif maka peserta didik tunanetra sering ketinggalan dan tidak pernah memperoleh kesempatan untuk berprestasi sesuai dengan kemampuannya
  • Anak tunanetra ditempatkan  berdekatan dengan anak yang memiliki kepedulian untuk membantu membacakan yang ditulis dosen/ guru di papan tulis/ layar LCD/OHP atau jika perlu dibuat jadwal pendampingan.
  • Hindarkan penempatan kelas yang bising, hal ini mengakibatkan anak kesulitan mendeteksi antara bunyi pokok dan latar belakang. Suara yang paling kuat (sekalipun bukan bunyi pokok) akan mendominasi pendengarannya.
  •  Kelas-kelas untuk anak tunanetra hendaknya mudah dijangkau (aksesibel),  jika perlu berikan  tanda khusus dan relatif menetap.

d)   Karakteristik mata pelajaran/ mata kuliah

Tidak semua mata kuliah dan atau materi pelajaran membutuhkan modifikasi. Hanya mata kuliah dan atau meteri pelajaran yang menimbulkan kesulitan sebagai akibat langsung dari kelainannya yang membutuhkan modifikasi. Sebagai contoh dapat disajikan hal-hal sebagai berikut:

  • Anak tunanetra memiliki keterbatasan dalam persepsi visual, Materi kuliah yang banyak membutuhkan fungsi visual dimodifikasi dengan pemanfaatan indra pendengaran, taktual, penciuman serta indra lain non visual. Kebanyakan tunanetra kesulitan dalam pembentukan konsep global, mereka memulai pengertian dengan diawali pembentukan konsep detail per detail baru kemudian global.
  • Kedalaman materi pelajaran/ kuliah yang memerlukan fungsi visual dan tidak dapat diganti dengan fungsi indra lain diturunkan target pencapaiannya, dan diberikan pengayaan di topik-topik yang mudah diterima dengan indra non visual.

 

b. Modifikasi  metodologi berkaitan dengan strategi pengorganisasian, strategi  penyampaian, dan  strategi pengelolaan.

1)         Strategi pengorganisasian berkaitan dengan pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dan lainnya yang setingkat dengan itu.

  • Pemilihan dan penataan isi materi tidak memerlukan modifikasi
  • Penyajian  diagram (objek dua dimensi) memerlukan modifikasi dengan mengemboss (menimbulkan) agar dapat diraba tunanetra), sedangkan objek tiga dimensi harus disajikan dalam bentuk benda asli atau model.
  • Penyajian format/ formula vertikal dapat dimodifikasi dalam format horinsontal, karena penulisan huruf Braille susah disajikan dalam format vertikal.

2) Strategi Penyampaian terdapat 3 komponen yang perlu diperhatikan dalam memdeskripsikan strategi penyampaian: (1) peraga pembelajaran, (2) interaksi peserta didik dengan peraga media, dan (3) bentuk/ struktur belajar mengajar.

a)        Peraga pembelajaran

  • Upayakan setiap anak mendapat kesempatan untuk mengamati (meraba) media yang tersedia.
  • Peraga visual dimodifikasi ke dalam peraga auditif, perabaan, namun tidak semua kesan visual dapat diubah ke dalam kesan non visual. Misal persepsi cahaya, bayangan, benda yang hanya dapat dijangkau dengan penglihatan. Hal ini anak tunanetra cukup diberi kesempatan untuk merasakan gejala yang muncul atau bahkan cukup diberikan cerita tentang itu.
  • Objek tiga dimensi harus disajikan dalam bentuk benda asli atau model.

b)       Interaksi peserta didik dengan peraga

  • Peraga  hendaknya jangan terlalu besar atau terlalu kecil, yang ideal adalah sejauh kedua tangan dapat mendeteksi objek secara keseluruhan.
  • Penyajian tabel/ diagram perlu penjelasan cara membaca dan maksud tabel/ diagram tersebut.
  • Ada jaminan bahwa peraga itu tidak berbahaya, tidak mudah rusak.

c)        Bentuk/ struktur pembelajaran

  • Bentuk/ struktur pembelajaran tidak memerlukan modifikasi.

2)  Strategi Pengelolaan .

  • Metode pembelajaran untuk orang awas pada prinsipnya dapat diterapkan terhadap peserta didik tunanetra dengan memodifikasi  aktivitas visual ke dalam aktivitas selain visual.
  • Metode ceramah: kata-kata asing atau kata lain yang belum dikenal hendaknya dosen/ guru mengulangi dan mengeja huruf-demi huruf. Jika antara ucapan dengan tulisan berbeda maka dosen/ guru harus mengeja huruf demi huruf.

     Contoh:

     Kalau (kalo) , what jika  dosen/ guru tidak mengeja anak akan menulis kalo, wot, dll

  • Metode demonstrasi  tidak  boleh dilakukan dengan visualisasi, tetapi yang didemonstrasikan dosen/ guru harus dapat didengar, diraba, dirasakan anak.
  • Praktikum di laboratorium IPA, seklipun anak tidak dapat melihat proses kimiawi, tetapi anak harus diberi informasi setiap perubahan yang terjadi jika perlu anak tunanetra diberi tugas mencatat kejadian yang diucapkan teman kelompoknya.
  • Hindarkan kata-kata ini, itu, untuk mewakili suatu konsep tertentu. Ini, itu yang dimaksud harus diucapkan lengkap dengan bahasa ujaran, sehingga anak tunanetra memahami. Begitu pula memberikan printah kepada peserta didik tunanetra harus menyebut nama anak/ menyentuh bagian tubuh, jika tidak peserta didik tunanetra tidak akan merespon. Misalnya ini ditambah ini sama dengan ini alangkah bijaksana bila dimodifikasi menjadi dua ditambah empat sama dengan enam.   Contoh:

 diujarkan  akar pangkat 3 dari 12/3

  • Kata-kata visual, simbol visual dapat dipakai  dalam memberikan informasi kepada anak tunanetra, sekalipun mereka belum pernah melihat. Misalnya: warna pakaian, warna buah, warna kulit manusia, dll. Hal ini amat berguna untuk bersosialisasi dengan anak awas lain.
  • Jangan menganggap bahwa tunanetra di kelas tidak mengantuk/ tidur, sekalipun anak tidak melihat, atau tidak memiliki bola mata, maka aktivitas  mengantuk, tidur tampak pada raut wajah.

 c.  Hasil pembelajaran

Pembelajaran dapat diketahui hasilnya melalui penilaian hasil belajar peserta didik

1) Tunanetra total

  • Menghindari/ minimalkan penggunaan kata-kata visual yang kurang dipahami anak.
  • Gambar dua dimensi disajikan dalam bentuk gambar timbul/ taktual.
  • Benda-benda tiga dimensi disajikan dalam bentuk asli atau model.
  • Tambahan  waktu  sedikitnya 20% dari waktu yang ditentukan.
  • Semua indra non visual dimanfaatkan untuk keperluan penilaian.
  • Posisi tempat duduk anak memperhatikan kemampuan indra pendengaran.

2)         Low Vison.

  • Memperhatikan kemampuan visual (ketajaman penglihatan) yang dimiliki anak .
  • Posisi tempat duduk anak memperhatikan hal-hal berikut ini:

a)       jarak

b)      ukuran

c)       pencahayaan

d)      kekontrasan

  • Menggunakan alat bantu optik atau non optik yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan anak.

3)    Penilaian  hasil belajar peserta didik tunanetra dapat dimodifikasi sebagai berikut:

BENTUK TES DIMODIFIKASI
Portofolio kumpulan karya dalam bentuk Braille, CD, Disket, Huruf Cetak
Projek Dikumpulkan dalam bentuk bentuk Braille, CD, Disket, Huruf Cetak
Penilaian produk Tidak perlu modifikasi
Lisan Tetap dilakukan dengan lisan
Tertulis Ditulis dalam huruf Braille, diubah dalam bentuk lisan, CD, disket, huruf cetak, e-mail
Penilaian diri Ditulis dalam huruf Braille, diubah dalam bentuk lisan, CD, disket, huruf cetak, e-mail
Kinerja Tidak perlu modifikasi

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Baraga, N. 1986.  Foundations of Education for Blind and Visually Handicapped Children and Youth: Theory and Practice, American Foundation For Blind, Inc,. New York

 

Guyton, A.C. 1981. Texbook of Medical Physiology, W.B. Sounders Company, Philadelphia.

 

Kuznetinova, L. V. 1993. Comparion of Skin Sensitivity of Finger in Normal and Blind Subject.  Sensory System. (1) 27-28.

 

Lowenfed, 1978.  Anak Tunanetra di Sekolah (ekstrak), terjemahan John Daniels, Balitbang Depdikbud,  Jakarta.

 

Pinel, J. P. 1993. Biopsychology, Allyn and Bacon, Inc.,  Boston.

 

Subagya, 2004, Adaptasi WECHSLER  INTELLIGENCE SCALE  FOR   CHILDREN (WISC) untuk anak tunanetra, Jurnal Penelitian Widya Tama Vol 1, Desember 2004, LPMP, Semarang

————–, 2007, Model Pembelajaran Pendidikan Khusus, Materi diklat guru PLB Kabupaten Karanganyar,23-25 April 2007

 

Verbeek, H. Th. M, 1978.  Pengamatan, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta.

No related posts.

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Turn on pictures to see the captcha *