Assesment Anak Berkebutuhan

Intervensi Anak Penyandang Tuna Netra

 

A. Alat  Assesmen

Bervariasinya kelainan penglihatan pada anak tunanetra menuntut adanya pemeriksaan  yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Assesmen kelainan penglihatan dilakukan  untuk mengukur kemampuan penglihatan dalam bentuk geometri, mengukur kemampuan penglihatan dalam mengenal warna, serta mengukur ketajaman penglihatan. Alat yang digunakan  untuk assesmen penglihatan anak tunanetra dapat seperti di bawah ini.

1) Snellen Chart

  (alat untuk mengetes ketajaman penglihatan dalam bentuk hurup dan simbol E)

2) Ishihara Test

 (alat untuk mengetes ”buta warna”)

3) SVR (Trial Lens Set)

(alat untuk mengukur ketajaman penglihatan)

4) Snellen Chart Electroni

 (alat untuk mengetes ketajaman penglihatan sistem elektronik bentuk hurup dan simbol E) 

B. Orientasi dan Mobilitas

Pada umumnya anak tunanetra mengalami gangguan orientasi mobilitas baik sebagian  maupun secara keseluruhan. Untuk pengembangan orientasi mobilitasnya dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat berikut ini.

1)  Tongkat panjang (alat bantu mobilitas berupa tongkat panjang yang terbuat dari allumunium)

2)  Tongkat Lipat (alat bantu mobilitas berupa tongkat yang dapat dilipat  terbuat dari allumunium)

3) Tongkat elektrik (alat bantu mobilitas berupa tongkat yang berbunyi apabila ada benda di dekatnya)

4) Bola bunyi  (bola sepak yang mengeluarkan bunyi)

5) Pelindung kepala (alat pengaman kepala dari benturan/helm sport)

C. Alat Bantu Pembelajaran/Akademik

Layanan pendidikan untuk anak tunanetra selain membaca, menulis, berhitung juga mengembangkan sikap, pengetahuan dan  kreativitas.  Akibat kelainan penglihatan anak  tunanetra mengalami kesulitan  dalam menguasai kemampuan membaca, menulis, berhitung.

Untuk membantu penguasaan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dapat dilakukan  dengan menggunakan alat-alat seperti berikut ini.

1) Peta Timbul  (peta tiga dimensi bentuk relief)

2) Abacus (alat bantu berhitung)

3) Penggaris Braille (penggaris dengan skala ukur bentuk relief)

4) Blokies (sejumlah dadu dengan simbol Braille dengan papan berkotak) 

5) Papan  Baca (alat untuk melatih membaca)

6) Meteran Braille (alat untuk mengukur panjang/lebar dengan skala ukur dengan simbol Braille)

7) Kompas Braille (pengukur posisi arah angin dengan tanda Braille)

8) Kompas bicara (penunjuk arah angin dengan suara)

9) Talking Watch (jam-tangan elektronik yang dapat mengeluarkan suara)

10) Gelas Rasa (gelas untuk mengukur tingkat sensitifitas rasa)

11) Botol Aroma (botol berisi cairan untuk mengukur tingkat sensitifitas bau) 12) Braille Kit (perlengkapan pengenalan huruf dan angka Braille)

13) Mesin tik Braille (mesin tik dengan huruf Braille)

14) Kamus bicara (kamus yang dapat mengeluarkan suara  berbentuk CD)

15) Jam tangan  Braille (jam tangan dengan huruf Braile)

16) Puzzle Ball (puzle bentuk potongan bola/lingkaran)

17) Model Anatomi (Model anatomi tiga dimensi dan dapat dirakit)

18) Globe Timbul (bola dunia tiga dimensi)

19) Bentuk–bentuk Geometri (puzle bentuk potongan geometris/peraturan)

20) Collor Sorting Box (alat untuk melatih ketajaman penglihatan melalui diskriminasi  warna)

 21) Reglet & Stylus (alat tulis Braille)

22) Komputer dan Printer dengan software Braille (komputer dan printer huruf Braille).

23) Screen reader (software pembaca screen)

D. Alat Bantu Visual (alat  bantu penglihatan)

Kelainan  penglihatan  anak tunanetra bervariasi dari yang ringan (low vision) sampai yang  total (total blind). Untuk membantu memperjelas penglihatannya pada anak tunanetra jenis 

» Low vision

 dapat digunakan  alat bantu sebagai berikut. 

1) Magnifier Lens Set (alat bantu penglihatan bagi low vision bentuk  hand and standing berbagai ukuran)

2) CCTV (Closed Circuit Television/alat bantu baca untuk anak low vision berupa TV monitor)

3) View Scan (alat bantu baca untuk anak low vision berupa scaner)

4)  Televisi (TV monitor/pesawat penerima gambar jarak jauh)

5)  Prism monocular (alat bantu melihat jauh) 

E. Alat Bantu Auditif (alat bantu pendengaran)

Untuk melatih kepekaan pendengaran anak tunanetra dalam mengikuti pelajaran dapat digunakan alat-alat seperti berikut ini:

1) Tape Rekorder Doble Dek (alat rekam/tampil suara model dua tempat kaset)

2) Alat Musik Pukul (alat-alat musik jenis pukul/perkusi)

3) Alat Musik Tiup (alat-alat musik jenis tiup) 

F. Alat Latihan Fisik

Pada umumnya anak tunanetra mengalami kesulitan dan kelambanan  dalam melakukan aktivitas fisik/motorik. Hal ini akan berpengaruh terhadap kekuatan fisiknya yang dapat menimbulkan kerentanan  terhadap kesehatannya.   Untuk mengembangkan kemampuan fisik  alat yang  dapat digunakan untuk anak tunanetra adalah  sebagai berikut .

1) Catur tunanetra (papan catur dangan permukaan tidak sama untuk kotak hitam dan putih, sehingga buah catur tidak mudah bergeser)

2) Bridge tunanetra (kartu bridge dilengkapi huruf Braille)

3) Sepak bola dengan bola berbunyi (bola sepak yang dapat menimbulkan bunyi)

4) Papan Keseimbangan (papan titian untuk melatih keseimbangan pada saat berjalan) 5) Power Rider (alat untuk melatih kecekatan motorik)

6) Static Bycicle (sepeda permanen/tidak dapat melaju)

G. Prasarana Khusus

Untuk peserta didik tunanetra diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Asesmen,  Konsultasi, Orientasi dan Mobilitas, Remedial Teaching, Latihan Menulis Braille,  Latihan Mendengar, Latihan Fisik, Keterampilan, dan penyimpanan alat.

 

Intervensi Anak Tuna Rungu

  A. Alat Asesmen

Bervariasinya tingkat kehilangan  pendengaran pada anak tunarungu/gangguan komunikasi menuntut adanya pengelolaan yang  cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan  kelebihan  yang dimilikinya.    Asesmen kelainan pendengaran  dilakukan  untuk mengukur kemampuan pendengaran, atau untuk  menentukan tingkat kekuatan  suara/sumber bunyi. Alat yang digunakan untuk asesmen  pendengaran anak tunarungu adalah  seperti berikut

1. Scan Test (alat untuk mendeteksi pendengaran tanpa memerlukan ruang khusus)

2. Bunyi-bunyian  (alat yang dapat menimbulkan berbagai jenis bunyi)

3. Garputala (alat pengukur getar bunyi/suara atau tinggi nada)

4. Audiometer & Blanko Audiogram (alat kemampuan pendengaran dengan akurasi tinggi melalui tes audiometri)

5. Mobile Sound Proof (kotak kedap suara sebagai perangkat tes audiometri)

6. Sound level meter (alat pengukur kuat suara)

B. Hearing Aids (Alat Bantu Dengar)

Anak tunarungu  mengalami gangguan  pendengaran baik dari ringan sampai berat/total. Untuk membantu pendengarannya dapat

dilakukan menggunakan alat bantu dengar (hearing aid) seperti berikut ini:

1) Model saku (alat bantu dengar model-saku)

2) Model belakang Telinga (alat bantu dengan model ditempel di belakang telinga)

3) Model dalam Telinga (alat bantu dengan model dimasukan langsung ke dalam  telinga)

4) Model kacamata (alat bantu dengar model-kacamata yang diperuntukan sekaligus kelainan penglihatan)

Sementara itu,  untuk  membantu pendengaran  dalam proses    pembelajaran  dapat digunakan alat-alat  berikut ini:

1) Hearing Group (alat bantu dengar yang dapat dipergunakan secara kelompok agar anak dapat berkomunikasi dan memanfaatkan sisa pendengaran)

2) Loop Induction System (alat bantu dengar yang dapat dipergunakan secara kelompok agar anak dapat berkomunikasi dan memanfaatkan sisa pendengaran dilengkapi head sets)

C. Latihan Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama

Pada umumnya anak tunarungu mengalami  gangguan  pendengaran  baik ringan maupun secara keseluruhan/total, sehingga mengakibatkan  gangguan atau hambatan komunikasi dan bahasa.  Untuk pengembangan  kemampuan berkomunikasi dan bahasa dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat  sebagai berikut:

1) Cermin (alat untuk memantulkan gambar/bercermin)

2) Alat latihan meniup  (seruling, kapas, terompet, peluit untuk merangsang pernafasan dalam rangka persiapan perbaikan bicara)

3) Alat musik perkusi (gong. gendang, tamborin, triangle, drum, kentongan) 

4) Sikat getar (sikat dengan bulu-bulu khusus untuk melatih kepekaan terhadap bunyi/getaran)

5) Lampu aksen (kontrol suara dengan lampu indikator)

6) Meja latihan wicara (meja tempat anak belajar berbicara telinga tiga dimensi)

7) Torso setengah badan (Model anatomi tubuh-setengah badan)

8) Puzzle buah-buahan (potongan-potongan bagian dari buah-buahan

9) Puzzle binatang (puzle bentuk potongan binatang)

10) Puzzle konstruksi (puzle bentuk konstruksi/rancang bangun sederhana)

11) Atlas (peta batas wilayah, batas pulau dan batas Negara)

12) Globe (bola dunia yang menggambarkan benua dan batas-batas negara di dunia) 13) Miniatur Rumah Adat (contoh rumah-rumah adat dalam ukuran kecil dan proporsional)

14) Miniatur Rumah ibadah (contoh rumah-rumah ibadah dalam ukuran kecil dan proporsional) 

D. Alat Latihan Fisik

Untuk mengembangkan kemampuan motorik/fisik anak tunarungu, alat-alat yang dipergunakan adalah sebagai berikut:

1) Bola dan Net Volley

2) Bola Sepak

3) Meja Pingpong

4) Raket, Net Bulutangkis dan Suttle Cock

5) Power Rider (alat untuk melatih kecekatan motorik)

6) Static Bycicle (sepeda statis)  

E. Prasarana Khusus

            Untuk peserta didik tunarungu/Gangguan Komunikasi diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Asesmen,  Konsultasi, Latihan Bina Wicara, Bina Persepsi Bunyi dan Irama, Remedial Teaching,  Latihan Fisik, Keterampilan, dan penyimpanan alat. 

Intervensi Anak Tuna Grahita

 

A. Alat asesmen

Bervariasinya tingkat intelegensi dan kognitif anak tunagrahita, menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.  

Asesmen pada anak tunagrahita dilakukan untuk mengukur tingkat intelegensi dan kognitif, baik secara individual maupun kelompok. Alat untuk asesmen anak tunagrahita dapat digunakan seperti berikut ini:

1) Tes Intelegensi WISC-R (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang model WISC-R)

2) Tes Intelegensi Stanford Binet (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang model  Stanford Binet)

3) Cognitive Ability test (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat pengetahuan yang dikuasai)

B. Latihan Sensori Visual

Tingkat kecerdasan anak tunagrahita bervariasi dari yang ringan sampai yang berat. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk berpikir abstrak dan mengalami kesulitan dalam membedakan warna dan mengenali bentuk. Untuk membantu sensori visual anak tunagrahita dapat menggunakan alat sebagai berikut:

1) Gradasi Kubus 

Bentuk-bentuk kubus dengan ukuran yang bervariasi untuk melatih kemampuan/pemahaman volume kubus.

2) Gradasi Balok 1

Bentuk-bentuk balok dengan ukuran yang bervariasi satu warna

3) Gradasi Balok 2

Bentuk-bentuk balok dengan ukuran yang bervariasi berbagai warna

4) Silinder 1

Bentuk-bentuk silinder untuk melatih motorik mata-tangan untuk usia dini

5) Silinder 2

Bentuk-bentuk silinder dengan ukuran yang bervariasi

6) Silinder 3

Bentuk-bentuk silinder dengan ukuran, warna dan bahan yang bervariasi

7) Menara segitiga

Susunan bentuk segi tiga dengan ukuran berurut dari kecil sampai besar

8) Menara lingkaran

Susunan gelang dari diameter kecil sampai besar

9) Menara segi empat

Susunan bentuk segi empat dengan ukuran berurut dari kecil sampai besar

10) Kotak Silinder 

 Tempat menyimpan silinder-silinder alat bantu mengajar/belajar

11) Multi sensori

Alat untuk melatih sensori seperti pemahaman bentuk, ukuran, warna atau klasifikasi objek dan tekstur

12) Puzzle Binatang

Puzle bentuk potongan gambar binatang

13) Puzzle Konstruksi

Puzle bentuk konstruksi/rancang bangun sederhana

14) Puzzle Bola Puzle bentuk potongan bola/lingkaran

15) Boks Sortir Warna

Alat bantu untuk melatih persepsi penglihatan melalui diskriminasi warna

16) Geometri Tiga Dimensi

Model-model bentuk benda beraturan tiga dimensi

17) Papan Geometri (Roden Set)

Papan latih bentuk beraturan model Roden

18) Kotak Geometri (Box Shape)

Kotak berpenutup berlubang sesuai bentuk-bentuk beraturan

19) Konsentrasi Mekanis

Alat latih konsentrasi gerak mekanik

20) Formmenstockbox Mit

Bentuk-bentuk dan warna untuk melatih motorik mata-tangan dan konsep ruang

21) Formmenstockbox

Bentuk-bentuk dan warna untuk melatih motorik mata-tangan dan konsep ruang

22) Scheiben-Stepel Puzzle

Bentuk-bentuk dan warna untuk melatih motorik pergelangan tangan untuk kesiapan menulis

23) Formstec-Stepel Puzzle   

            Bentuk-bentuk dan warna untuk melatih motorik dan konsentrasi

24) Fadeldreicke

Alat untuk melatih ketajaman penglihatan dan koordinasi mata-tangan

25) Schmettering Puzzle

            Melatih hubungan ruang dan bentuk dalam kesatuan objek

26) Puzzle Set

Berbagai puzzle untuk mengembangkan kreativitas, konsep rung dan melatih ingatan

27) Streckspiel

Alat untuk melatih ketajaman penglihatan dalam dimensi warna dan ukuran, menyortir dan mengklasifikasi objel secara seriasi

28) Geo-Streckbrett

            Alat untuk melatih ketajaman penglihatan dan koordinasi mata-tangan

29) Rogenbugentorte

            Alat untuk melatih kemampuan mendiskrinisasi warna dan motorik halus 

C.  Latihan Sensori Perabaan

Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk membedakan dan mengenali bentuk. Untuk membantu sensori perabaan anak tunagrahita dapat digunakan alat sebagai berikut:

1) Keping Raba 1

Keping-keping benda dengan ukuran dan tekstur bervariasi

2) Keping Raba 2 (Gradasi Keping)

Keping-keping benda dengan ukuran dan tekstur/tingkat kehalusan tinggi

3) Keping Raba 3 (Gradasi Kain)

Berbagai kain dengan tingkat kekasaran/pakan/serat kain  yang bervariasi

4) Alas Raba (Tactile footh)

Melatih kepekaan kaki pada lantai yang dikasarkan/dilapis lantai bertekstur kasar

5) Fub and Hand

Siluet tangan dan kaki

6) Puzzle Pubtastplatten

            Plat fuzle dengan siluet

7) Tactila

Melatih kepekaan perabaan melalui diskriminasi taktual dan visual

8) Balance Labirinth Spirale

Alat latih keseimbangan gerak tangan pada arah yang berbeda berbentuk spiral timbul

9) Balance Labirinth Maander

Alat latih keseimbangan gerak tangan pada arah yang berbeda berbentuk segi empat timbul

D. Sensori Pengecap dan Perasa

Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk membedakan rasa dan membedakan aroma/bau. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan sensori pengecap dan perasa. Alat yang digunakan melatih sensori pengecap dan perasa dapat berupa:

a. Gelas Rasa

Gelas yang berisi cairan/serbuk untuk mengukur tingkat sensitifitas rasa

b. Botol Aroma

Botol berisi cairan/serbuk untuk mengukur tingkat sensitifitas bau

c. Tactile Perception

Untuk mengukur analisis perabaan

d. Aesthesiometer

            Untuk mengukur kemampuan rasa kulit

E. Latihan Bina Diri

            Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk merawat diri sendiri. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan bina diri. Alat yang digunakan latihan bina diri dapat berupa:

1) Berpakaian 1 (bentuk kancing)

2) Berpakaian 2 (bentuk resleting)

3) Berpakaian 3 (bentuk tali)

4) Dressing Frame Sets

 Rangka pemasangan pakaian-kancing, resleting dan tali dikemas dalam satu bingkai

5) Sikat Gigi

6) Pasta Gigi dan lain sebagainya               

Alat yang digunakan melatih sensori pengecap dan perasa dapat berupa:

a. Gelas Rasa (gelas yang berisi cairan/serbuk untuk mengukur tingkat sensitifitas rasa)

b. Botol Aroma (botol berisi cairan/serbuk untuk mengukur tingkat sensitifitas bau

c. Tactile Perception

Untuk mengukur analisis perabaan

d. Aesthesiometer

 Untuk mengukur kemampuan rasa kulit 

F Konsep dan Simbol Bilangan 

Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk memahami konsep dan simbul bilangan. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan memahami konsep dan simbul bilangan. Alat yang digunakan melatih konsep dan simbul bilangan dapat berupa:

1) Keping Pecahan

Peraga bentuk lingkaran menunjukan bagian benda, ½, ¼, 1/3, dst.

2) Balok Bilangan 1

Alat mengenal prinsip bilangan basis bilangan satuan

3) Balok Bilangan 2

Alat mengenal prinsip bilangan basis bilangan  puluhan

4) Geometri Tiga Dimensi

Berupa bentuk-bentuk geometri tiga  dimensi yaitu: bulat, lonjong, segitiga, segiempat, limas, piramid.

5) Abacus

Alat untuk melatih pemahaman konsep bilangan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan nilai tempat.

6) Papan Bilangan (Cukes)

Berfungsi untuk melatih kemampuan memahami bilangan dan dasar-dasar operasi hitung.

7) Tiang Bilangan (Seguin Bretter)

Papan bersekat dengan angka puluhan dan nilai tempat, berfungsi melatih kemampuan memahami bilangan puluhan dan nilai tempat.

8) Kotak Bilangan

Kotak bersekat dilengkapi angka-angka 1 s.d 10 dengan lubang sekat 50, berfungsi untuk memperkenalkan konsep nilai dan simbol bilangan 1 sampai dengan 10. 

G. Kreativitas, Daya Pikir dan Konsentrasi

Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk berkreativitas dan pada daya pikirnya. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan memahami kreativitas, daya pikir dan konsentrasi. Alat yang digunakan dapat berupa:

1) Tetris

Kotak berisi potongan kayu untuk disusun beraturan sesuai petunjuk gambar

2) Box konsentrasi mekanis

Alat latih konsentrasi gerak mekanik bentuk kotak/boks

3) Fuzle konstruksi

Puzle bentuk konstruksi/rancang bangun sederhana

4) Rantai persegi

Mata rantai persegi yang dapat disusun/dirangkai menjadi bentuk bangun

5) Rantai bulat

Mata rantai bulat yang dapat disusun/dirangkai menjadi bentuk bangun bola

6) Lego/Lazi

Potongan-potongan dengan kaki dan kepala yang dapat saling dipasangkan membuat bangun tertentu

H. Alat Pengajaran Bahasa

Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dan berbahasa. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan berbahasa. Alat yang digunakan melatih berbahasa dapat berupa:

1) Alphabet Loweincase

Simbol-simbol alphabet/abjad huruf besar

2) Alphabet Fibre Box

Melatih membaca permulaan dengan cara merangkai huruf menjadi kalimat bahan dari fibre

3) Pias Kata

Simbol-simbol kata untuk disusun menjadi kalimat 

4) Pias Kalimat

Pias-pias kata dan kalimat dilengkapi dengan gambar

I. Latihan Perseptual Motor

Keterbatasan intelegensi dan kognitif mengakibatkan anak tunagrahita mengalami kesulitan dalam perseptual motornya. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan perseptual motor. Alat yang digunakan melatih perseptual motor dapat berupa:

1) Bak Pasir

Melatih kreativitas bentuk

2) Papan Keseimbangan

Papan untuk melatih keseimbangan tubuh

3) Gradasi Papan Titian

Papan untuk melatih keseimbangan     

4) Tubuh dalam bentuk bertingkat

5) Keping Keseimbangan

Tangga bertali-papan berpenopang

6) Power Rider

            Alat untuk melatih kecekatan motorik

7) Balancier Zehner

Berfungsi melatih keseimbangan gerak tubuh yang terdiri dari untaian objek bentuk lingkaran

8) Balamcierbrett

Berfungsi melatih dinamisasi tubuh berbentuk lingkaran yang diberi torehan melingkar untuk menaruh bola

10) Balancierwippe

Berfungsi melatih keseimbangan tubuh melalui gerak kaki berbentuk bilah papan yang diberi torehan

11) Balancier Steg

.           Melatih keseimbangan untuk beberapa anak sekaligus yang terdiri dari bilah-bilah papan dan balok yang dapat dirubah.

 

 

Intervensi Anak Tuna Daksa

A. Alat Asesmen Kemampuan Gerak 

Pada umumnya anak tunadaksa mengalami gangguan perkembangan intelegensi motorik dan mobilitas, baik sebagian maupun secara keseluruhan. Bervariasinya kondisi fisik dan intelektual anak tunadaksa, menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Hal ini penting dalam upaya menentukan apa yang dibutuhkan dapat mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan kemampuan dan keadaannya.  Asesmen dilakukan pada anak tunadaksa dilakukan untuk mengetahui keadaan postur tubuh, keseimbangan tubuh, kekuatan otot, mobilitas, intelegensi, serta perabaan. Alat yang digunakan untuk assesmen anak tunadaksa seperti berikut ini:

1) Finger Goniometer (alat ukur sendi-daerah gerak)

2) Flexiometer (alat ukur kelenturan)

3) Plastic Goniometer (alat ukur sendi terbuat dari plastik)  

4) Reflex Hammer (palu untuk mengukur gerak reflex kaki)

5) Posture Evaluation Set (pengukur postur tubuh mengukur kelainan posisi tulang belakang)

6) TPD Aesthesiometer (mengukur rasa permukaan kulit pada tubuh)

7) Ground Rhytem Tibre Instrument (alat ukur persepsi bunyi)

8) Cabinet Geometric Insert (lemari geometris)

9) Color Sorting Box (kotak sortasi warna)

10) Tactile Board Sets (papan latih perabaan sets)

B. Alat Latihan Fisik/Bina Gerak

            Pada umumnya anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh. Agar anak tunadaksa dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari diperlukan latihan. Alat-alat yang dapat digunakan dapat berupa:

1) Pulley Weight (untuk menguatkan otot tangan dan perut)

2) Kanavel Table (untuk menguatkan otot tangan, pergelangan dan jari tangan)

3) Squeez Ball (untuk latihan daya remas tangan)

4) Restorator Hand (untuk menguatkan otot lengan)

5) Restorator Leg (untuk menguatkan otot kaki, tungkai)

6) Treadmill Jogger (untuk menguatkan otot kaki, tungkai dan jantung)

7) Safety Walking Strap (sabuk pengaman ketika berlatih jalan)

8) Straight/tangga (alat latih memanjat)

9) Sand-Bag (pemberat beban pada latihan gerak sendi)

10) Exercise Mat (latihan mobilisasi gerak tidur, berguling)

11) Incline Mat (latihan untuk merangkak)

12) Neuro Development Rolls (latihan untuk merangkak dan keseimbangan dalam posisi duduk)

13) Height Adjustable Crowler (latihan untuk merangkak)

14) Floor Sitter (untuk latihan duduk tegak di lantai)

15) Kursi CP (untuk latihan duduk tegak posisi normal)

16) Individual Stand-in Table (untuk latihan berdiri tegak dan aktivitas tangan)

17) Walking Paralel (untuk latihan jalan dengan pegangan memajang kiri dan kanan 18) Walker Khusus CP (untuk latihan m obilitas berjalan)

19) Vestibular Board (meja goyang untuk latihan keseimbangan)

20) Balance Beam Set (papan titian untuk latihan keseimbangan)

21) Dynamic Body and Balance (latihan keseimbangan dan meloncat)

22) Kolam Bola-bola (untuk latihan koordinasi mata, kaki dan tangan)

23) Vibrator (untuk mengatasi kekakuan otot)

24) Infra-Red Lamp/Infra Fill (melancarkan peredaran darah  dan relaksasi otot)

25) Dual Speed Massager (alat pijat double kecepatan)

26) Speed Training Devices (alat latih kecepatan gerakan mulut pada saat bicara)

27) Bola karet (untuk latihan motorik)

28) Balok berganda  (papan untuk melatih keseimbangan tubuh dalam bentuk bertingkat)

29) Balok titian (papan untuk melatih keseimbangan tubuh) 

C. Alat Bina Diri

            Anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh. Keterbatasan atau hambatan tersebut mengakibatkan anak tunadaksa mengalami kesulitan untuk merawat diri sendiri. Agar anak tuna daksa dapat melakukan perawatan diri dan kegiatan hidup sehari-hari (activity of daily living), maka perlu latihan.

Alat-alat yang dapat digunakan dapat berupa:

1) Swivel Utensil (sendok khusus yang dimodifikasi untuk anak CP)

2) Dressing Frame Set (rangka pemasangan pakaian)

3) Lacing Shoes (kaus kaki)

4) Deluxe Mobile Commade (alat latih buang air-kloset berjalan) 

D. Alat Orthotic dan Prosthetic

Anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh, karena kondisi tubuh mengalami kelainan. Agar anak tuna daksa dapat melakukan ambulasi dan kegiatan hidup sehari-hari (activity of daily living), maka perlu alat bantu (orthonic dan prosthetic). Alat-alat yang dapat digunakan meliputi:

1) Cock-Up Resting Splint (meluruskan permukaan tangan dan jari)

2) Rigid Immobilitation Elbow Brace (untuk mengatsi gerakan siku pada posisi fleksi 90 derajat)

3)Flexion Extention (untuk membantu gerakan sendi siku)

4) Back Splint (untuk menahan sendi lutut agar tidak melinting kebelakang dan sebagi penguat kaki pada saat berjalan)

5) Night Splint (untuk mengistirahatkan kaki dalam posisi normal dan mencegah salah bentuk)

6) Denish Browns Splint (mengoreksi telapak kaki yang salah bentuk)

7) X Splint (mengoreksi bentuk kaki bentuk  X) 

8) O Splint (mengoreksi bentuk kaki bentuk  O)

9) Long Leg Brace Set (menopang kaki yang layu agar kuat  berjalan/berdiri)

10) Ankle or Short Leg Brace (untuk meluruskan tendon yang memendek atau meluruskan kaki serang)

11) Original Thomas Collar (penyangga leher)

12) Simple Cervical Brace (untuk mengoreksi leher dan  menegakkan bahu)

13) Corsett (mengoreksi kelainan tulang punggung)

14) Crutch (kruk) (untuk menopang tubuh)

15) Clubfoot walker Shoes (mengoreksi bentuk kaki yang tidak terkendali pada saat jalan)

16) Thomas Heel Shoes (sepatu dengan hak yang bisa miring kiri-kanan)

17) Wheel Chair (kursi roda)

18) Kaki Palsu Sebatas Lutut 

19) Kaki Palsu Sampai Paha 

E. Alat Bantu Belajar/Akademik

            Layanan pendidikan untuk anak tunadaksa mencakup membaca, menulis, berhitung, pengembangan sikap, pengetahuan dan kreativitas. Akibat mengalami kelainan pada motorik dan intelegensinya, maka anak tunadaksa mengalami kesulitan dalam menguasai kemampuan  membaca, menulis, berhitung.

Untuk membantu penguasaan kemampuan di bidang akademik, maka dibutuhkan layanan dan peralatan khusus. Alat-alat yang dapat membantu mengembangkan kemampuan akademik pada anak tunadaksa  dapat

1) Kartu Abjad untuk pengenalan huruf 

2) Kartu Kata untuk pengenalan kata

3) Kartu Kalimat untuk pengenalan kalimat

4) Torso Seluruh Badan untuk pengenalan bagian anggota  tubuh manusia

5) Geometri Sharpe untuk pengenalan bentuk dan untuk menyortir bentuk geometri

6) Menara Gelang untuk latihan koordinasi mata dan tangan

7) Menara Segitiga untuk pengenalan bentuk segitiga

8) Menara Segiempat untuk pengenalan bentuk segi empat

9) Gelas Rasa untuk membedakan macam-macam rasa

10) Botol Aroma untuk membedakan macam-macam bau/aroma

11) Abacus dan Washer untuk belajar berhitung

12) Papan Pasak untuk belajar berhitung dan koordinasi

13) Kotak Bilangan untuk belajar berhitung

Intervensi Anak Tuna Laras

 

A. Asesmen Gangguan Perilaku 

Anak tunalaras adalah anak yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Terganggunya perilaku anak tunalaras, menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Hal ini penting dalam upaya menentukan apa yang dibutuhkan dapat mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan kemampuan dan keadaannya.

Asesmen dilakukan pada anak tunalaras untuk mengetahui penyimpangan perilaku anak. Alat yang digunakan untuk assesmen anak tunalaras seperti berikut ini: 1) Adaptive Behavior Inventory for Children

2) AAMD Adaptive Behavior Scale

B. Alat Terapi Perilaku

Perilaku menyimpang yang dilakukan anak tunalaras cenderung untuk merugikan diri sendiri dan orang lain. Untuk mereduksi perilaku yang menyimpang, maka dibutuhkan peralatan khusus. Alat-alat tersebut dapat berupa:

1) Pretend Game (untuk membantu anak dalam bersosialisasi dengan orang lain)

2) Hide-Way (untuk bermain sembunyi-sembunyian)

3) Put me a tune (untuk latihan menuangkan air ke cangkir)

4) Copy cats (untuk menjalin interaksi dengan orang lain)

5) Jig-saw puzzle (teka-teki untuk melatih memecahkan masalah)

6) Puppen house (untuk melatih bermain peran)

7) Hunt the Timble (permainan sulap untuk mengingatkan kembali permainan yang telah lalu)

8) Sarung tinju (terbuat dari kulit untuk menyalurkan rasa emosional)

9) Hoopla (untuk latihan koordinasi mata dan tangan)

10) Sand Pits (untuk melatih gerakan tangan dengan menggunakan tangan atau memasukan jari kakinya)

11) Animal Matching Games (untuk latihan mencocokan gambar binatang)

12) Organ (untuk melatih kepekaan, kesenian dan mengapresiasikan musik)

13) Tambur dengan Stick dan Tripod (untuk melatih kepekaan, kesenian dan mengapresiasikan musik)

14) Rebana (untuk melatih kepekaan, kesenian dan mengapresiasikan musik)

15) Flute (untuk melatih kepekaan, kesenian dan mengapresiasikan musik)

16) Torso (untuk mengenal organ tubuh manusia)

17) Constructive Puzzle (melatih kemampuan pemecahan masalah)

18) Animal Puzzle (untuk mengenal berbagai jenis binatang)

19) Fruits Puzzle (untuk mengenal berbagai jenis buah-buahan)

 20) Basket Mini (untuk melatih ketangkasan dan sosialisasi)

21) Konsentrasi Mekanis (untuk melatih daya konsentrasi)

C. Alat Terapi Fisik 

Untuk mengembangkan kemampuan motorik/fisik anak tunalaras, alat yang dapat digunakan seperti berikut ini:

1) Matras

2) Straight-Type Staircase

3) Bola Sepak  

4) Bola, Net Volley

5) Meja Pingpong

6) Power Rider

7) Strickleiter  

8) Trecketsando (5 flat)

9) Rope Lader

Intervensi Anak Berbakat

 

A. Alat Assesmen 

Anak berbakat mempunyai kemampuan yang istimewa dibanding teman sebayanya. Istimewanya kondisi anak berbakat menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Hal ini penting dalam upaya menentukan apa yang dibutuhkan dapat memperoleh pelayanan pendidikan sesuai dengan kemampuannya.

Asesmen dilakukan pada anak berbakat untuk mengetahui. Keberbakatan dan menilai tentang kebutuhannya untuk menempatkan dalam program-program pendidikan sesuai dengan dan dalam rangka mengembangkan potensinya. Alat yang digunakan untuk assesmen anak berbakat seperti berikut ini:

1) Tes Intelegensi WISC-R (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang model WISC-R)

2) Tes Intelegensi Stanford Binet (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang model  Stanford Binet)

3) Cognitive Ability Tes (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat pengetahuan yang dikuasai)

4) Differential Aptitude Test (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat sikap)

B.  Alat Bantu Ajar/Akademik  

Anak berbakat memiliki sifat selalu haus pengetahuan dan tidak puas bila hanya mendapat penjelasan dari orang lain, mereka ingin menemukan sendiri dengan cara trial and error (mengadakan percobaan/praktikum) di laboraturium atau di masyarakat.  Untuk itu sekolah inklusif hendaknya perlu mengusahakan sarana yang lengkap. Sarana-sarana belajar tersebut meliputi:

            1)   Sumber belajar:

a) Buku paket

b) Buku Pelengkap

c) Buku referensi

d) Buku bacaan

e) Majalah

f) Koran

g) Internet

h) Modul

i) Lembar kerja

j) Kaset Video

k) VCD

l) Museum

m) Perpustakaan

n) CD-ROM dan lain sebagainya.

            2). Media pembelajaran 

a) Radio

b) Cassette recorder

c) TV

d) OHP

e) Wireless

f) Slide projector

g) LD/VCD/DVD player

h) Chart

i) Komputer, dan lain sebagainya

Intervensi Anak yang Mengalami Kesulitan Belajar

A.  Alat Assesmen

Anak yang mengalami kesulitan belajar merupakan kondisi kronis yang diduga bersumber neurologis yang secara selektif menggangu perkembangan, integrasi, dan/atau kemampuan verbal dan/atau non verbal. Kesulitan belajar dapat berupa kesulitan berbahasa, membaca, menulis dan atau matematika.  Bervariasinya kesulitan belajar, menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Hal ini penting dalam upaya menetukan apa yang dibutuhkan dapat mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan kemampuan dan keadaannya.

Asesmen pada anak yang mengalami kesulitan belajar dilakukan  untuk mengetahui bentuk kesulitan belajar dan untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan program pembelajarannya. Alat yang digunakan untuk assesmen anak yang mengalami kesulitan belajar seperti berikut ini:

1)   Instrumen ungkap riwayat kelainan 

2)   Tes Inteligensi WISC

B.  Alat Bantu Ajar/Akademik

1) Kesulitan Belajar Membaca (Disleksi)

Sarana khusus yang diperlukan oleh anak yang mengalami kesulitan belajar membaca (remedial membaca) meliputi:

a) Kartu Abjad

b) Kartu Kata

c) Kartu Kalimat

2) Kesulitan Belajar Bahasa Sarana khusus yang diperlukan oleh anak yang mengalami kesulitan belajar bahasa (remedial bahasa) meliputi:

a) Kartu Abjad

b) Kartu Kata

c) Kartu Kalimat 

3) Kesulitan Belajar Menulis (Disgrafia) Sarana khusus yang diperlukan oleh anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (remedial menulis) meliputi:

a) Kartu Abjad

b) Kartu Kata

c) Kartu Kalimat

d) Balok bilangan 1

e) Balok bilangan 2 

4) Kesulitan Belajar Matematika (Diskalkulia) Sarana khusus yang diperlukan oleh anak yang mengalami kesulitan belajar matematika (remedial matematika)  meliputi:

a) Balok bilangan 1

b) Balok bilangan 2

c) Pias angka

d) Kotak bilangan

e) Papan bilangan

Prasarana Khusus

 

1. Anak Tunanetra  

Untuk peserta didik tunanetra diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Asesmen,  Konsultasi, Orientasi dan Mobilitas, Remedial Teaching, Latihan Menulis Braille,  Latihan Mendengar, Latihan Fisik, Keterampilan, dan penyimpanan alat. 

2. Anak Tunarungu/Gangguan Komunikasi

            Untuk peserta didik tunarungu/Gangguan Komunikasi diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Asesmen,  Konsultasi, Latihan Bina Wicara, Bina Persepsi Bunyi dan Irama, Remedial Teaching,  Latihan Fisik, Keterampilan, dan penyimpanan alat. 

3.  Anak Tunagrahita

Untuk peserta didik Tunagrahita/Anak Lamban Belajar diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Assesmen,  Konsultasi, Latihan sensori, Bina diri, Remedial Teaching,  Latihan Perseptual, Keterampilan, dan penyimpanan alat. 

4.  Anak Tunadaksa

 Untuk peserta didik Tunadaksa diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Assesmen,  konsultasi, Latihan fisik, Bina diri, Remedial Teaching,  Keterampilan, dan penyimpanan alat.

5.  Anak Tunalaras

            Untuk peserta didik Tunalaras diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Assesmen,  Konsultasi, Latihan perilaku, Terapi permainan, Terapi fisik, Remedial Teaching, dan penyimpanan alat. 

6. Anak Cerdas Istimewa 

Di samping memberdayakan atau mengoptimalkan penggunaan prasarana yang ada apabila di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif peserta didiknya ada yang berkecerdasan istimewa, prasarana khusus yang perlu disediakan adalah ruang assesmen.

 7. Anak Berbakat Istimewa

            Untuk anak berbakat istimewa di samping memberdayakan atau mengoptimalkan penggunaan prasarana yang ada apabila di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif peserta didiknya ada yang berbakat, prasarana khusus yang perlu disediakan adalah ruang assesmen. 

8. Anak yang Mengalami Kesulitan Belajar

            Untuk peserta didik yang Mengalami Kesulitan Belajar diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Assesmen,  dan Remedial. Sebagai catatan, pada dasarnya di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif cukup disiapkan satu

unit ruang sebagai ”Resource Room” atau ruang sumber.

Related posts:

  1. PENDIDIKAN ANAK TUNA NETRA
This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Turn on pictures to see the captcha *